ayo semangat A'an Zahrotul,
bersugesti positif dan tetap mengambil hikmah dari masa lampau.
Sabtu, 22 September 2012
RADIASI itu
apa? Bagaimana bahayanya?
Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang
dipancarkan dalam bentuk partikel atau gelombang. Jika suatu inti tidak stabil, maka inti mempunyai
kelebihan energi. Inti itu tidak dapat bertahan, suatu saat inti akan
melepaskan kelebihan energi tersebut dan mungkin melepaskan satu atau dua atau
lebih partikel atau gelombang sekaligus.
Macam-macam radiasi:
1.
radiasi beta.
Radiasi beta lebih mudah untuk dihentikan. Seng atap atau kaca jendela dapat
menghentikan radiasi beta. Bahkan pakaian yang kita pakai dapat melindungi dari
radiasi beta.
2.
Radiasi alfa dapat dihalangi seluruhnya dengan
selembar kertas. Radiasi alfa tidak dapat menembus kulit kita. Radiasi alfa
sangat berbahaya hanya jika bahan-bahan yang melepaskan radiasi alfa masuk
kedalam tubuh kita.
3.
Sinar-X merupakan jenis radiasi yang paling
banyak ditemukan dalam kegiatan sehari-hari. Semua sinar-X di bumi ini dibuat
oleh manusia dengan menggunakan peralatan listrik tegangan tinggi. Alat
pembangkit sinar-X dapat dinyalakan dan dimatikan. Jika tegangan tinggi
dimatikan, maka tidak akan ada lagi radiasi. Sinar-X dapat menembus bahan,
misalnya jaringan tubuh, air, kayu atau besi, karena sinar-X mempunyai panjang
gelombang yang sangat pendek. Sinar-X hanya dapat ditahan secara efektif oleh
bahan yang mempunyai kerapatan tinggi, misalnya timah hitam (Pb) atau beton
tebal.
4.
Radiasi gamma mempunyai sifat yang serupa dengan
sinar-X, namun radiasi gamma berasal dari inti atom.
Karena berasal dari inti atom, radiasi gamma akan memancar secara
terus-menerus, dan tidak dapat dinyalakan atau dimatikan seperti halnya
sinar-X. Radiasi gamma yang terdapat di alam terutama berasal dari bahan-bahan radioaktif
alamiah, seperti radium atau kalium radioaktif.
Bahayanya ?
Efek
Stokastik adalah
efek yang penyebab timbulnya merupakan fungsi dosis radiasi dan diperkirakan
tidak mengenal dosis ambang. Efek ini terjadi sebagai akibat paparan radiasi
dengan dosis yang menyebabkan terjadinya perubahan pada sel. Cirinya :
· Tidak mengenal dosis ambang
· Timbul setelah melalui masa tenang yang lama
· Keparahannya tidak bergantung pada dosis radiasi
· Tidak ada penyembuhan spontan
·
Efek ini meliputi : kanker, leukemia (efek somatik), dan penyakit
keturunan (efek genetik).
Efek Deterministik
adalah efek yang kualitas keparahannya bervariasi menurut dosis dan
hanya timbul bila dosis ambang dilampaui. Efek ini terjadi karena adanya proses
kematian sel akibat paparan radiasi yang mengubah fungsi jaringan yang terkena
radiasi. Cirinya :
· Mempunyai dosis ambang
· Umumnya timbul beberapa saat setelah
radiasi
· Adanya penyembuhan spontan (tergantung
keparahan)
· Tingkat keparahan tergantung terhadap dosis
radiasi
·
Efek ini meliputi : luka bakar, sterilitas / kemandulan, katarak (efek
somatik)
Bagaimana kita
bisa tahu adanya suatu radiasi?
Radiasi
dapat berinteraksi dengan materi yang dilaluinya melalui proses ionisasi,
eksitasi dan lain-lain. Dengan menggunakan sifat-sifat tersebut kemudian
digunakan sebagai dasar untuk membuat detektor radiasi. Misalnya :

Transistor sebagai Switching
PEMBUATAN
ALAT PENDETEKSI KEBAKARAN DENGAN DETEKTOR ASAP
Penggunaan aplikasi transistor dengan
memanfaatkan LDR sudah banyak ditemukan. Selain itu, juga digunakan sensor
yaitu suatu peralatan yang digunakan untuk merubah suatu besaran fisik menjadi
besaran listrik sehingga dapat sehingga untuk mendeteksi/mengukur sesuatu, yang
digunakan untuk mengubah variasi mekanis, magnetis, panas, sinar dan kimia
menjadi tegangan dan arus listrik.
Dalam Rangkaian Pengaman Rumah
Menggunakan Sensor Cahaya, berfungsi sebagai input dalam rangkaian yang berupa
LDR, sensor cahaya memiliki nilai resistansi yang berubah ubah tergantung besar
kecilnya cahaya yang diterima. Untuk kondisi terang LDR memiliki resistansi
sangat rendah. LDR ini mempengaruhi hasil tegangan yang dihasilkan oleh pembagi
tegangan yang menjadi input tegangan.
Adapun proses pembuatan alat
pendeteksi kebakaran dengan detector asap adalah sebagai berikut :
·
Pengujian Sensor, dengan memasukkan
transparansi sebagai pengganti asap pada sel asap yang terdapat LED dan LDR.
·
Pengujian transistor, Fungsi dari
transistor ini adalah sebagai saklar yang memasukan data ke dalam memori.
Pengujian transistor menunjukkan bahwa saat transistor tertutup logika
keluarannya
menunjukkan
logika rendah (0) dan bila transistor dibiarkan dalam keadaan terbuka maka
keluarannya berlogika tinggi (1).
·
Pengujian Tiristor,Tiristor berfungsi
sebagai memori karena sekali disulut akan tetap menghantar terus. Pengujian
tiristor dilakukan dengan memberikan masukan pada gerbang dan pada anoda, maka
katoda akan berlogika tinggi (1) dan tidak akan berubah nilainya meskipun
masukannya jatuh ke taraf rendah lagi.
·
Pengujian Multivibrator ,
Multivibrator yang digunakan adalah multivibrator astabil yang bergerak
bebas.
·
Pengujian Pengeras Suara, yang
diberikan nilai frekuensi tertentu.
Setelah masing-masing komponen dalam kondisi
baik maka selanjutnya dilakukan perangkaian komponen lalu memasukkan
transparansi sebagai pengganti asap ke dalam sel asap yang akan membunyikan
pengeras suara (dengan catatan : untuk memperkeras suara dapat digunakan
amflifier).
Sumber jurnal :
http://eprints.undip.ac.id/2084/1/Pembuatan_Alat_Pendeteksi_Kebakaran_Dengan_Detektor_Asap.pdf
RESUME
Aplikasi
Dietanolamida dari Asam Laurat Minyak Inti Sawit
pada
Pembuatan Sabun Transparan
Surfaktan adalah
salah satu produk dari kelapa sawit. Sedangkan sabun transparan merupakan jenis
sabun untuk muka dan untuk mandi yang dapat menghasilkan busa lebih lembut dan
penampilannya lebihberkilau dibanding sabun lain.
Metodologi yang dilakukan dalam
percobaan jurnal tersebut terdiri dari beberapa tahap, yaitu :
1. pembuatan DEA
berupa asam laurat (C12H2402) yang
difraksinasi dari minyak inti sawit dan dietanolamina untuk menentukan tegangan
permukaan , tegangan antar muka dan nilai pH.
2. pemilihan
formula sabun transparan
3. aplikasi
DEA pada pembuatan sabun transparan
4.
karakteristik produk, yaitu analisis sifat fisika kimia pada sabun transparan
Hasil yang didapat adalah :
Penurunan tegangan permukaan air terjadi tanpa
penambahan surfaktan dietanolamida , begitu pula nilai tegangan antar muka menurun karena
penambahan surfaktan. Sedangkan nilai pH surfaktan dietanolamida menunjukkan
sifat ke-basa-an dari surfaktan itu sendiri. Pemilihan formula dari sabun transparan
yaitu transparansi, busa dan tekstur. Pada pembuatan sabun transparan
ditambahkan gliserin yang berfungsi sebagai humektan dan juga sebagai pelembut,
minyak jarak sebagai penjernih sabun, trietanolamida berperan dalam proses
penyabunan, dietanolamida sebagai penstabil busa dan membuat busa lebih lembut,
sukrosa untuk mencegah kristalisasi dan meningkatkan kekerasan sabun
transparan, NaOH sebagai bahan pembuat stok (adonan akan menjadi lebih keras
dan lengket, serta DEA untuk proses pembusaan.
Semua bahan dicampur kemudian diaduk agar bahan
tercampur sempurna dengan kecepatan dan suhu tertentu agar tidak terjadi
penggumpalan dan agar tidak akan menghambat dalam proses pencetakan sabun
transparan. Untuk pengukuran kadar air dan zat menguap dilakukan untuk
membandingkan kadar air sabun transparan yang dihasilkan dari konsentrasi DEA,
dimana ini erat kaitannya dengan criteria mutu sabun transparan itu sendiri
yaitu sabun dengan kadar air yang lebih rendah mengindikasikan akan mempunyai
daya simpan yang relative lebih lama karena adanya asam lemak yang lebih banyak
dalam sabun tersebut.
Dalam proses pembuatan sabun , terdapat pula kadar
fraksi yang tidak tersabunkan (senyawa-senyawa yang dapat larut dalam minyak).
Perlu diketahui pula, bahwa kadar fraksi tak tersabunkan pada sabun transparan harus
memenuhi criteria sabun dimana layak atau tidaknya sabun tersebut digunakan.
DEA sebagai gugus hidrofobik yang dapat mengikat
minyak lebih banyak, sehingga akan mengakibatkan lemak tak tersabunkan
berkurang karena jumlah lemak tak tersabunkan menunjukkan jumlah asam lemak
yang tidak terikat oleh basa.
Pada proses pembuatan sabun juga terdapat bahan yang
tidak larut dalam alcohol misalnya karbonat, silikat, fosfat maupun sulfat.
Bahan yang tidak larut dalam alcohol terjadi karena keduanya tidak memiliki
polaritas yang sama. Penambahan DEA akan mengakibatkan peningkatan bagian tak
larut dalam alcohol pada sabun transparan karena DEA terbuat dari asam lemak.
Alkali bebas pada pembuatan sabun transparan harus berada dalam kisaran “aman”
karena alkali memiliki sifat yang keras dan dapat mengiritasi kulit sehingga
alkali tidakboleh ditambahakan terlalu pekat bahkan berlebih.
Nilai pH sabun tahap aman adalah berkisar 9-11. Jika
pH yang dihasilkan sabun kurang dari batas aman maka hal ini disebabkan karena
DEA bersifat basa lemah sehingga perlu ditambahkan DEA untuk menurunkan pH.
Sedangkan untuk stabilitas busa sabun transparan dipengaruhi karena adanya
konsentrasi DEA.
Parameter selanjutnya dalam pembuatan sabun
transparan adalah kestabilan emulsi sabun ( kekuatan system emulsi yang
terdapat dalam sabun untuk mempertahankan kestabilanny dalam berbagai kondisi
), hubungan antara kestabilan emulsi sabun dengan jumlah konsentrasi DEA adalah
berbanding lurus.
Penambahan konsentrasi DEA akan mengakibatkan
kekerasan sabun transparan yang dihasilkan semakin meningkat.
Kesimpulan
Dalam proses pembuatan sabun transparan terdapat
beberapa parameter yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut :
Tegangan permukaan, tegangan antar muka, nilai pH,
pemilihan formula, kadar air dan menguap, jumlah asam lemak, kadar fraksi tak
tersabunkan, bagian tak larut dalam alcohol, kadar alkali bebas, stabilitas
busa, stabilitas emulsi sabun,dan kekerasan sabun transparan itu sendiri.
Dari semua parameter tersebut, hal yang paling berpengaruh
adalah jumlah konsentrasi DEA yang ditambahkan dalam pembuatan sabun transparan
tersebut.
TUGAS
JURNAL DAN RESUME dengan TOPIK “ PEMBUATAN SABUN”
Nama : A’an Zahrotul W.
NIM : M0211001
LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA DASAR I
Praktikum V
Penurunan Titik Beku Larutan
![]() |
Oleh:
Nama Mahasiswa : A’AN ZAHROTUL WALIDAH
NIM : M0211001
Hari/Tgl Praktikum : Kamis, 10 Nopember 2011
Kelompok : 1 (satu)
Asisten Pembimbing : Diniyah
LABORATORIUM KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
PERCOBAAN
5
PENENTUAN
TITIK BEKU
1. TUJUAN PERCOBAAN
Mahasiswa dapat menentukan penurunan titik
beku larutan urea dan larutan NaCl
2. PRINSIP PERCOBAAN
Prinsip percobaan kali ini adalah
menghitung penurunan titik beku larutan urea dan larutan NaCl dengan menghitung
terlebih dahulu massa dan molalitas suatu zat terlarutnya, selanjutnya
membandingkan titik beku pelarut murni (air) dan larutan urea serta larutan
NaCl.
3. DASAR TEORI
Adanya partikel zat terlarut yang
tidak mudah menguap dalam larutan dapat mengurangi kemampuan zat pelarut untuk
menguap, sehingga tekanan uap larutan lebih rendah daripada tekanan uap pelarut
murni. Adanya partikel zat terlarut tersebut juga akan mengakibatkan kenaikan
titik didih dan penurunan titik beku larutan.
Menurut hokum Roult, besarnya
penurunan tekanan uap larutan, kenaikan titik didih, dan penurunan titik beku
larutan yang mengandung zat terlarut tidak mudah menguap dan tidak mengalami
disoasiasi (larutan non elektrolit ) , sebanding dengan banyaknya partikel zat
terlarut. Besarnya kenaikan titik didih larutan 1 molal disebut kenaikan titik
didih molal,Kb, sedangkan besarnya penurunan titik beku larutan 1 molal disebut
penurunan titik beku molal, Kf.
Dengan :
Kb = kenaikan titik didih molal
Kf
= penurunan titik beku molal
M = molalitas larutan
Besarnya mlalitas larutan yang
sejenis sebanding dengan massa zat terlarut dan berbanding terbalik dengan
massa molekul zat terlarut. Jika massa zat terlarut dan massa zat pelarut
diketahui, maka massa molekul zat terlarut dapat ditentukan berdasarkan sifat
koligatif larutan.
Untuk larutan yang mengandung zat
terlarut tidak mudah menguap dan dapat mengalami disosiasi (larutan elektrolit)
, besarnya penurunan tekanan uap larutan , kenaikan titik didih, dan penurunan
titik beku larutan, dipengaruhi oleh derajat disosiasi larutan.
(sumber: modul e-learning / penentuan titik beku)
Zat
elektrolit dan non elektrolit
Berdasarkan sifat fisis
larutannya, zat yang larut dalam air digolongkan dalam dua kelompok besar,
yaitu zat elektrolit dan non elektrolit. Larutan non elektrolit tidak dapat
menghantarkan listrik, misalnya larutan gula, sedangkan larutan elektrolit dapat menghantarkan listrik, misalnya larutan
garam dan asam sulfat.
Seperti yang telah dikemukakan
diatas bahwa sifat koligatif larutan bergantung dari banyaknya partikel zat
terlarut dalam larutan. Atas dasar itulah sifat koligatif larutan dapat dibagi
menjadi sifat koligatif larutan elektrolit dan sifat koligatif larutan non
elektrolit. Hal ini disebabkan karena zat terlarut pada larutan non elektrolit
jumlahnya tetap karena tidak terurai menjadi ion-ion , sedangkan zat terlarut
pada larutan elektrolit bertambah jumlahnya karena terurai menjadi ion-ion.
(sumber
: Arifin : 2007 )
Sifat
koligatif larutan non elektrolit
Sifat koligatif larutan dalah
sifat larutan yang mengandung pada jumlah partikel zat terlarut dalam larutan
dan tidak bergantung pada jenis zat terlarut. Sifat larutan yang tergolong
sifat koligatif adalah :
1.
Penurunan
tekanan uap ( P)
Ada
suatu zat cair jika dimasukkan dalam suatu ruangan tertutup maka zat cair itu
akan menguap sampai ruangan itu jenuh. Pada saat keadaan jenuh tersebut
terdapat kesetimbangan dinamis antara zat cair dan uap jenuhnya.Tekanan yang
ditimbulkan oleh uap jenuh tersebut disebut tekanan uap jenuh. Besarnya tekanan
uap jenuh bergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki gaya tarik
menarik antar partikel sangat besar berarti sukar untuk menguap dan berarti zat
tersebut memiliki tekanan uap jenuh yang relative kecil. Misalnya : garam , gula,
glikol , gliserol. Tetapi sebaliknya zat yang memiliki gaya tarik menarik antar
partikel sangat kecil berarti mudah untuk menguap dan berarti zat tersebut
memiliki tekanan uap jenuh yang relative besar. Zat ini dinamakan atsiri,
Misalnya : etanol dan eter. Tekanan uap jenuh akan bertambah apabila suhu
dinaikkan.
Hubungan antara tekanan udara , tekanan
uap, titik didih , titik beku air murni dan larutan dapat disimpulkan :
Ø
Titik
didih larutan lebih tinggi daripada titik didih pelarut murni ( Tb larutan <
Tb pelarut ) maka kenaikan titik didih (
Tb) dinyatakan :
Ø

Titik
beku larutan lebih tinggi daripada titik beku pelarut murni(Tf larutan < Tf
pelarut ) maka penurunan titik beku(
Tf) dinyatakan :
(sumber
: Rama, Michael, 1999)
2.
Kenaikan
Titik didih ( Tb)
Titik
didih suatu cairan adalah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu samadengan
tekana luar (tekanan yang dikenakan pada permukaan cairan ). Apabila tekanan
uap sama dengan tekanan luar maka gelembung uap yang terbentuk dalam cairan
dapat mendorong ke permukaan menuju fase gas. Oleh karena itu titik didih
larutan bergantung pada tekanan luar. Biasanya yang dimaksud titik didih normal
yaitu pada tekanan 1 atm (760 cmHg). Titik
Didih normal air adalah 100 C. Persamaanya adalah :
m =
kemolalan larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didih molal (0,52)
3.
Penurunan
tekanan beku ( Tf)
m =
kemolalan larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku molal (1,86)
4.
Tekanan
Osmotik
Berbagai
jenis selaput (semipermiable) baik yang buatan maupun yang murni , dapat
dilewati molekul pelarut yang kecil tetapi menahan molekul zat terlarut.
Apabila dua jenis larutan yang beda konsentrasinya dipisahkan oleh selaput
semipermiabel akan terdapat aliran pelarut dari larutan yang encer ke larutan
yang pekat. Hal ini terlihat dari bertambah tingginya larutan yang pekat,
sedangkan yang encer semakin berkurang, perpindahan ini disebut osmosis.
Osmosis dapat dicegah dengan member
suatu tekanan pada suatu permukaan larutan. Tekanan yang diperlukan untuk
menghentikan aliran dari pelarut murni menuju larutan disebut tekanan osmotic.
Tekanan osmotic tergolong sifat koligatif karena harganya bergantung pada
konsentrasi dan bukan bergantung pada jenis zat terlarut. Menurut Van’t Hoff :
“tekanan osmosis larutan berbanding lurus dengan konsentrasi molar dan suhu
mutlak larutan . Persamaannya :
dimana : π =
tekanan osmotic
M =
kemolaran larutan
R =
tetapan gas ideal (0,082)
T =
suhu mutlak
(sumber :Rosenberg,Jerome L:1980)
Sifat
koligatif larutan elekrolit
Senyawa elektrolit (asam, basa, garam ) dalam air
akan terurai menjadi ion, maka jumlah partikel dalam akan menjadi lebih besar dibandingkan
dengan zat non elektrolit.Zat elektrolit dalam air akan terionisasi menjadi
ion-ion. Peruraian ini menyebabkan penambahan jumlah partikel. Penambahan
partikel ini menyebabkan sifat koligatif larutan elektrolit mempunyai nilai
lebih besar daripada sifat koligatif larutan non elektrolit , untuk
larutan-larutan dengan konsentrasi sama.
α
= jumlah mol yang terionisasi
Jika konsentrasi larutan M
(molaritas) maka:
Jumlah
mol yang terionisasi = jumlah mol mula-mula . α
= M.α
Selanjutnya
, pertambahan jumlah zat akibat zat elektrolit dapat digambarkan :
Mula-mula = M
Terionisasi = -M.α n.M.α
Setimbang =M-M.α n.M.α
Jumlah partikel dalam
larutan = M-M.α + n.M.α
= M (1 + ( n – 1) α)

Ø
Tb = m. Kb . i
Ø
Tf = m. Kf. i
Ø
π= M.R.T. i
(sumber:Susilowati,Endhang:2007)
4. ALAT DAN BAHAN
A.
Alat
:
a.
Gelas
ukur 1
buah
b.
Tabung
reaksi 5
buah
c.
Pengaduk 1 buah
d.
Gelas
kimia 1
buah
e.
Termometer 1 buah
f.
Stopwatch
ponsel 1 buah
g.
Penangas 1 buah
h.
Cawan 1
buah
i.
Timbangan
analitik 1
buah
B.
Bahan
a.
NaCl
(1,17
gram dan 0,58 gram )
b.
Urea
(0,6
gram dan 1,25 gram )
c.
Es
batu secukupnya
d.
Aquades (masing-masing
10 ml)
e.
Garam
dapur secukupnya
C.
Gambar
alat utama
1
2

Atau
:

Keterangan
:
1. Tabung reaksi 3. Es batu
2. Penangas 4. Garam dapur
5.
METODELOGI
PERCOBAAN
Dimasukkan
Penangas yang berisi bongkahan
Dibiarkan
hingga :
Diukur,dikeluarkan
Suhu setiap waktu 30 detik
Hingga semua padatan melebur
Hasil pengukuran
Dimasukkan
Penangas yang berisi
campuran
dibiarkan
hingga:
dikeluarkan, diukur, dicatat
suhu tiap 30 detik
hingga semua melebur
Ditambah
Dimasukkan
Penangas yang berisi
campuran
dikeluarkan, diukur, dicatat
suhu tiap 30 detik
hingga semua melebur
Ditambah
Dimasukkan
Penangas yang berisi
campuran
dikeluarkan, diukur, dicatat
suhu tiap 30 detik
hingga semua melebur
Ditambah
Dimasukkan
Penangas yang berisi
campuran
dikeluarkan, diukur, dicatat
suhu tiap 30 detik
hingga semua melebur
6. DATA HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN
A.
DATA
HASIL PENGAMATAN
|
Waktu
(30 detik ke :
|
Aquades 10 ml
|
NaCl 1,17 gram + aquades 10 ml
|
NaCl 0,58 gram + aquades 10 ml
|
Urea 1.25 gram + aquades 10 ml
|
Urea 0,6 gram + aquades 10 ml
|
|
1
|
5
|
5
|
-3
|
-3
|
Tidak membeku
|
|
2
|
5
|
6
|
-1
|
-3
|
|
|
3
|
4
|
8
|
1
|
-2
|
|
|
4
|
4
|
11
|
4
|
4
|
|
|
5
|
4
|
13
|
7,5
|
5
|
B.
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, urea merupakan larutan
non elektrolit karena tidak dapat menghantarkan arus listrik dan tidak terurai
menjadi ion-ion. Sedangkan NaCl merupakan larutan elektrolit karena dapat
menghantarkan arus listrik dan tidak terurai menjadi ion-ion. Prinsip dari
percobaan ini adalah menghitung penurunan titik beku larutan urea dan larutan
NaCl dengan menghitung terlebih dahulu massa dan molalitas suatu zat
terlarutnya, selanjutnya membandingkan titik beku pelarut murni (air) dan
larutan urea serta larutan NaCl.
Alat-alat yang digunaka adalah :
Ø
tabung reaki :
untuk tempat larutan uji
Ø
Gelas
ukur : untuk mengukur
dalam pengambilan larutan
Ø
Gelas
kimia : untuk tempat
mengaduk larutan
Ø
Pengaduk : untuk mengaduk larutan
Ø
Timbangan
analitik :untuk menimbang zat yang
akan digunakan dalam percobaan (urea dan NaCl)
Ø
Cawan : sebagai wadah untuk
menimbang NaCl dan urea
Ø
Stopwatch
: untuk menentukan
waktu ukur
Ø
Termometer :untuk mengukur suhu larutan
Ø
Penangas : untuk tempat es batu
yang akan digunakan untuk membekukan larutan,
Sedangkan bahan yang digunakan
antara lain : urea , NaCl, garam dapur, akuades dan es batu.
Pada
percobaan ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah mengisi penangas dengan es batuhingga penuh ,
kemudian ditambahkan garam dapur secukupnya. Tujuan dari penambahan garam dapur
tersebut adalah agar es batu yang ada dalam penangas tidak mencair( mempercepat
proses pembekuan), sebagaimana telah kita ketahui bahwa garam dapur tersebut
adalah zat yang memiliki gaya tarik menarik sangat besar dan berarti sukar
untuk menguap serta memiliki tekanan uap jenuh yang relative kecil sehingga
bila dicampurkan dengan es batu, suhu es batu akan terjaga maka tidak mudah
mencair. Dengan kata lain , fungsi garam dapur adalah untuk menaikkan titik
beku es batu. Setelah ditambahkan garam dapur, diisiskan aquades 10 ml ke dalam
tabung reaksi dan dan tabung yang berisi aquadest tersebut dimasukkan kedalam
penangas yang telah diiisi es batu dan garam dapur tadi, ditunggu hingga
terjadi pembekuan pada aquades yang merupakan pelarut murni. Setelah membeku,
tabung reaksi tersebut dikeluarkan dan diukur suhunya serta diamati dan dicatat
perubahan suhunya setiap selang 30 detik, hingga semua padatan aquades tersebut
mencair (melebur).
Pada
percobaan kedua digunakan urea (CO(NH2)2) untuk mengetahui besarnya titik
beku pada larutan urea (CO(NH2)2). Disini digunakan dua massa yang berbeda ( variasi
), yaitu 0,6 gram dan 1,25 gram. Langkah yang dilakukan adalah menimbang urea
sebanyak 0,6 gram kemudian dilarutkan dengan aquades 10 ml dalam gelas kimia
hingga semua serbuk larut, dengan cara diaduk. Sebanyak 5 ml hasil pelarutan
tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi . Selanjutnya tabung reaksi yang
berisi larutan urea tersebut dimasukkan kedalam penangas yang telah berisi es
batu dan garam dapur , dibiarkan hingga larutan membeku. Setelah membeku,
tabung reaksi dikeluarkan , diukur dan dicatat suhunya. Setiap 30 detik suhunya
diamati dan dicatat kembali hingga semua padatan urea mencair (melebur) .
Langkah yang sama dilakukan pada urea 1,25gram, sehingga dari pengamatan
tersebut diperoleh titik beku larutan urea dengan massa yang berbeda.
Setelah
pada percobaan larutan urea selesai dilakukan maka dilanjutkan dengan percobaan
larutan NaCl ,dengan massa yaitu 1,17 gram dan 0,58 gram. Langkah yang
dilakukan adalah menimbang NaCl sebanyak 0,58 gram kemudian dilarutkan dengan
aquades 10 ml dalam gelas kimia hingga semua serbuk larut, dengan cara diaduk.
Sebanyak 5 ml hasil pelarutan tersebut dimasukkan kedalam tabung reaksi . Selanjutnya
tabung reaksi yang berisi larutan NaCl tersebut dimasukkan kedalam penangas
yang telah berisi es batu dan garam dapur , dibiarkan hingga larutan membeku.
Setelah membeku, tabung reaksi dikeluarkan , diukur dan dicatat suhunya. Setiap
30 detik suhunya diamati dan dicatat kembali hingga semua padatan NaCl mencair
(melebur) . Langkah yang sama dilakukan pada NaCl 1,17 gram, sehingga dari pengamatan tersebut
diperoleh titik beku larutan NaCl dengan massa yang berbeda.
Dari
percobaan ini didapat hasil titik beku, sebagai berikut :
Ø
Aquades = 5 C
Ø
Urea
0,6gram = tidak membeku
Ø
Urea
1,25 gram = (-3) C
Ø
NaCl
1,17 gram =6 C
Ø
NaCl
0,58 gram = (-1) C
Ø
Aquades
= (-5) C
Ø
Urea
0,6gram = tidak membeku
Ø
Urea
1,25 gram = (3) C
Ø
NaCl
1,17 gram =(-6) C
Ø
NaCl
0,58 gram = (1) C
Sedangkan berdasarkan perhitungan
molalnya, penurunan titik beku untuk masing-masing larutan adalah sebagai
berikut :
Ø
Aquades
= 0 C
Ø
Urea
0,6gram = 1,86 C
Ø
Urea
1,25 gram = 4 C
Ø
NaCl
1,17 gram = 7,4 C
Ø
NaCl
0,58 gram = 3,72 C
·
Pada
aquades yang merupakan pelarut murni dimana nilai suhunya yang sebenarnya
adalah 0 C tapi dalam hasil percobaan didapatkan nilai suhunya sebesar (-5) C ,
hal ini mungkin dikarenakan karena beberapa kesalahan seperti saat pengukuran
suhu menggunakan thermometer, praktikan kurang cepat sehingga sebagian padatan
aquades sudah melebur.
·
Pada
NaCl, nilai penurunan titik bekunya pun berbeda , disebabkan karena NaCl merupakan larutan elektrolit kuat
sehingga proses pembekuannya berlangsung lebih lama , tetapi meleburnya lebih
cepat . (karena titik beku bergantung pada pertambahan jumlah partikel larutan
akibat terjadinya ionisasi. )
·
Pada
urea 0,6 gram tidak membeku , hal ini dikarenakan urea merupakan zat yang
memiliki gaya tarik menarik antar partikel sangat besar sehingga sukar untuk
menguap dan berarti zat tersebut memiliki tekanan uap jenuh yang relative
kecil.
Perbedaan nilai
penurunan titik beku berdasarkan hasil percobaan diatas dapat terjadi
disebabkan karena beberapa kesalahan , antara lain :
ü
Larutan
yang sudah membeku, tapi ketika akan dilakukan pengukuran suhu menggunakan
thermometer , praktikan kurang cepat sehingga padatan dari suatu larutan
tersebut sudah mulai melebur.
ü
Ketika
mengukur suhu, praktikan menyentuh thermometer (cara memegang thermometer yang kurang tepat
)sehingga mempengaruhi besarnya suhu yang terjadi.
ü
Kesalahan
dalam pembacaan skala thermometer (mata praktikan tidak sejajar dengan skala
thermometer. Keslahan ini disebut kesalahan paralaks.
ü
Kesalahan
dalam pengukuran waktu (waktu saat memencet tombol stopwatch tidak sama dengan
suhu yang ditunjuk thermometer)
ü
Larutan
pada saat dibekukan sedikit tercampur dengan tetesan air es yang dimasukkan
ketika menambahkan es batu pada penangas.
ü
Larutan
yang dibekukan sering diangkat untuk diketahui apakah sudah
memadat/belum(dibekukan-diangkat lagi-dibekukan lagi-diangkat lagi-begitu
seterusnya )sehingga larutan tersebut sukar untuk membeku kembali.
ü
Suhu
lingkungan mempengaruhi suhu thermometer.
7. KESIMPULAN
Titik
beku dari suatu larutan adalah suhu pada saat tekanan uap cairan samadengan
tekanan uap bentuk padatnya. Faktor-faktor yang mengalami titik beku larutan
adalah besarnya massa zat terlarut dan titik beku larutan. Semakin besar massa
zat terlarut maka penurunan titik bekunya makin besar dan semakin tinggi titik
beku larutan makan semakin tinggi pula penurunan titik bekunya.
Hasil
penurunan titik beku larutan berdasarkan titik beku larutannya adalah :
Ø
Aquades
= (-5) C
Ø
Urea
0,6gram = tidak membeku
Ø
Urea
1,25 gram = (3) C
Ø
NaCl
1,17 gram =(-6) C
Ø
NaCl
0,58 gram = (1) C
Hasil penurunan
titik beku larutan berdasarkan zat terlarutnya adalah :
Ø
Aquades
= 0 C
Ø
Urea
0,6gram = 1,86 C
Ø
Urea
1,25 gram = 4 C
Ø
NaCl
1,17 gram = 7,4 C
Ø
NaCl
0,58 gram = 3,72 C
8. DAFTAR PUSTAKA
1.
Arifin
, AH.AL.dkk. 2007. Panduan belajar kelas
II SMA IPA KIMIA . Yogyakarta:Primagama
2.
Modul
e-learning / Penentuan titik beku
3.
Rama,
Michael. 1999.Bahan ajar Kimia SMA / MA.
Jakarta:Gunung Ilmu
4.
Rosenberg,
Jerome L. 1980. Theory and Problems of
collage chemistry 6th edition (Schaum Series). Univercity of
Pittsburgh: Mcbrow Hill.inc
5.
Susilowati,
Endhang.2007.Kimia SMA II.Surakarta:
Tiga serangkai
9. LAMPIRAN
·
Perhitungan
Surakarta
, 10 November 2011
Mengetahui,
Asisten Praktikan
(
Diniyah ) (A’an Zahrotul W.)
PERHITUNGAN
A.
Menggunakan
rumus Tf = Tf0 – Tf
= 0 C – Tf larutan
1.
Tf
Aquades = 0 C – 5 C
= (-5) C
2.
Tf
urea 0.6 gram = tidak membeku
3.
Tf
urea 1,25 gram = 0 C – (-3) C
=
3 C
4.
Tf
NaCl 1,17 gram = 0 C – 6 C
=
(-6)C
5.
Tf
NaCl 0,58 gram = 0 C – (-1) C
=
1 C

B.

Menggunakan
rumus Tf = massa. 1000. Kf .i(jika
larutan elektrolit)
Mr.
volume (ml)
dengan: Mr urea
= 60
Mr NaCl = 58,5
1.
Tf aquades(pelarut murni) = 0 C
2.

Tf urea 0.6 gram = 0,6gram.1000ml .1,86
60. 10ml
=
1,86 C
3.

Tf urea 1,25 gram = 1,25gram.1000ml. 1,86
60. 10ml
= 4 C
4.

Tf NaCl 1,17 gram = 1,17 gram. 1000 ml.1,86. 2
58,5. 10ml
= 7,4 C
5.

Tf NaCl 0,58 gram = 0,58 gram. 1000 ml. 1,86. 2
58,5. 10ml
= 3,72 C
Langganan:
Postingan (Atom)
